Namaku
Nisa, aku adalah anak dari pemilik kantin di suatu sekolah menengah atas yang
terkenal di kotaku. Aku adalah anak biasa-biasa saja yang mampu berharap tinggi
layaknya anak orang-orang kaya. Tak hanya itu saja, aku beruntung yaitu
orangtua ku adalah pemilik kantin disana, karena aku bisa sekolah disana juga
tanpa melewati jalur seleksi juga, pasti tahulah lewat jalur belakang. Saat SMA
ini aku belum pernah bolos, telat, atau pun berbohong pura-pura sakit terus
engga sekolah. Aku selalu rajin, kenapa? Karena aku menginap juga di kantin
sekolah, jadi semua yang berhubungan dengan sekolah aku belum pernah terlewati,
atau mungkin aku murid satu-satunya yang belum pernah absen di sekolah ku ini,
aku juga termasuk murid pintar, karena terakhir aku masuk 3 besar di kelas ku.
Setiap pulang sekolah aku biasanya
pergi ke perpustakaan kota, tak jauh kok dari sekolahku, mungkin 20 meter ada. Biasanya
kalau murid lain mungkin banyak yang ikut bimbel, namun aku hanya bisa pergi ke
perpustakaan, baca Novel,
Koran, buku pelajaran, ataupun mengerjakan tugas disana. Begitulah kenapa aku
bisa menjadi ranking 3 besar di kelas ku. Disana, banyak member juga yang sama
sepertiku, yaitu menjadi pecinta baca buku. Kira-kira member aktif disana
mungkin sekitar 10 orang, aku tidak mengetahui setiap nama member semuanya,
namun hanya beberapa. Dan yang pasti, yang paling aku kenal adalah teman
sebangkuku di sekolah, yang sekaligus member disana, yaitu adalah Firda.
Suatu hari dimana aku mulai jenuh
dengan rutinitasku ini, aku mencoba menyewa buku dari perpus bukan untuk dibaca
disana, melainkan untuk baca di rumah (kantin), pada saat pendataan di meja administrasi perpustakaan,
aku merasa disamping seperti ada seseorang yang juga sedang menungguku. Aku menoleh
ke arah samping, dan tak kusangka itu adalah seorang laki-laki. Tak kusapa
dirinya, tak kutanya siapa dirinya. Namun, setelah aku lihat tadi, muka orang
itu sangatlah tak asing, tapi aku tak tahu kapan aku pernah bertemu dengannya.
Setelah selesai berada di perpustakaan aku langsung pulang. Sebelumnya aku
bilang ke Firda bahwa aku akan cepat-cepat pulang. Dalam perjalanan, aku tak
memikirkan apapun, hanya tujuanku ke rumah bantu ibu disana.
Tak lama, aku sudah sampai di rumah,
aku langsung melalukan pekerjaan rumah, tanpa disuruh pun aku sudah sangat
mengerti. Saat
aku sedang mengepel lantai, aku tiba-tiba
mengingat wajah laki-laki yang tadi siang aku temui.
Aku coba memikirkan siapa dirinya, namun aku benar-benar tak tahu. Aku rehat
sejenak dan mencoba menelpon Firda.
“Fir,
aku mau nanya nih. Tapi malu buat diceritain” ucap Nisa
“Mau
nanya apa? Kamu mau buat contekkan? Terus gimana caranya? Aduh…..” jawab Firda
“Haha,bukan
itu. Aku mau nanya nih soal tadi siang”
“Siang
kapan? Pas di perpustakaan?”, jawab Firda sambil bingung
“Iya
betul” jawabku
Karena keasyikan menelpon, tak
terasa pekerjaan rumah terbengkalai, dan jawaban Firda membuatku penasaran,
karena dia enggan memberitahuku siapa laki-laki
tersebut dan dia
tidak mau
menceritakan lewat telepon, yang ia mau adalah
menceritakan secara langsung dan menceritakannya di perpustakaan, maka aku
akhiri telepon tersebut. Keesokan harinya, setelah pulang sekolah aku langsung
ajak Firda ke perpustakaan, pada saat diperjalanan, firda benar-benar
menyebalkan, dia masih konsisten masih belum menceritakan siapa orang tersebut,
bahkan dia mengejekku. Siapa sih yang engga suka sama sifat Firda seperti ini.
Setelah sampai, Firda bukan mengajak
aku duduk, melainkan memegang erat tanganku dan menarikku ke pojok ruangan
perpustakaan. Sebenarnya perpustakaan itu adalah tempat yang tak asing bagiku, namun setelah ke pojok tersebut
suasana
agak canggung. Saat aku ditarik oleh Firda, tak berselang lama aku langsung
berpikir “Apakah Firda akan mempermalukanku?”. Namun sayangnya tidak, pikiran
tersebut benar-benar diluar perkiraan. Firda mempertemukanku dengan Pak Didi,
yaitu guru Bahasa Indonesia di sekolahku. Aku bingung kenapa Firda
memperkenalkanku dengan dengan Pak Didi. Hingga akhirnya kita mengobrol
bertiga, yaitu aku, Firda, Pak Didi.
“Oh,
Nisa ternyata suka main disini yak?”, ujar Pak Didi
“Iya
Pak, berkat saya akhirnya Nisa suka tempat ini, bahkan dia masuk 3 besar pak
dikelasnya,”, jawab Firda dengan memotong pembicaraan
“Anu,
bapak juga suka kesini?” tanyaku
“Oh
ya tentu, saya bukan hanya sebagai guru, saya juga tata kelola buku disini.
Tapi tak hanya itu saja, saya juga selalu mengantar anakku kesini. Nisa tahu?”
“Anak
bapak siapa ya? Nisa benar-benar tidak tahu bahwa anak bapak sering kesini”
“Maaf
pak, biar lebih jelas bolehkah saya yang menjawab pertanyaan Nisa?”, jawab
Firda
“Begini,
waktu itu, tepatnya saat kamu sedang mengantri untuk meminjam buku ada seorang
laki-laki, itu adalah anak Bapak Didi. Namanya adalah Ibnu, dia satu sekolah
dengan kita, yaitu kakak kelas kita kelas XI, jangan lupa yak dia namanya Ibnu.
Kamu bilang tak asing kan? Yak benar, kemarin itu adalah pertemuan keduamu
dengan Ibnu. Pertemuan pertamamu itu saat bertengkar dengan Ibnu gara-gara
novel yang judulnya “Sang
Pemimpi”, padahal udah ada filmnya tapi masih aja mau baca novelnya. Kenapa
kamu diam saja? Malu atas apa yang aku jawab di depan Pak Didi. Kamu suka
dengan Ibnu? Pak jodohkan saja Nisa dengan anak Bapak hehe”
Suasana mencair, dan aku lega atas
apa yang semua jawaban Firda dibicarakan. Ternyata orang itu adalah kakak
kelasku sendiri, bahkan anak guru juga. Tak berselang lama, firasat sebelumnya
muncul kembali. Yup benar, Ibnu akhirnya muncul, dia telat ke perpustakaan
karena ada tugas kelompok, akupun benar-benar canggung. Entah ini sudah
direncanakan atau tidak, tapi setelah Ibnu datang. Pak Didi dan Firda tiba-tiba
bilang ada urusan, dengan polosnya aku jawab “iya”, dan mereka tiba-tiba
menghilang. Anehnya, mungkin ini adalah rencana, dan kenapa aku mau maunya
mengikutin rencana mereka. Tapi beruntungnya aku bisa berhadapan dengan Ibnu,
entahlah bagaimana perasaan sekarang ini, canggung, senang. Kami berdua terdiam
beberapa menit, karena satu sama lain canggung, dan mungkin Ibnu ingin
mengobrol, akhirnya dia bilang “Hai” untuk pertama kalinya.
“Masih
ingat waktu dulu rebutan novel?”, Tanya Ibnu
Aku pun tertawa malu dan
meminta maaf apa yang aku lakukan dulu. Perasaan
aku mengobrol dengan Ibnu
beberapa menit, namun ternyata telah mengobrol selama satu jam,
lalu aku diantar pulang oleh dia dengan motor matic nya. Aku duduk mengarah
kesamping, saat aku melihat spion kiri motornya dia sedang tersenyum lebar,
mukaku tersipu malu, meskipun dia tidak tahu aku malu sekarang. Dalam
perjalanan ia kaget karena heran ingin berhenti di sekolah, dan ternyata dia
baru tahu bahwa aku ini adalah anak penjaga kantin sekolah.
Keesokan hari tepatnya saat
istirahat sekolah, aku sedang duduk di tempat biasaku, dan yang tak kuduga
adalah aku melihat Ibnu di Kantin. Seketika, waktu terasa lama, debu-debu yang
berterbangan terasa jelas dilihat, bahkan seperti salju yang turun. Semakin
kulihat, semakin indah wajahnya. Dia memiliki rambut warna hitam, rambut klimis mengarah
ke kiri, terkadang ada sedikit rambut menghalangi matanya, sesekali dia
membenarkan rambutnya. Ia membawa pulpen yang diselipkan di saku pakaian seragamnya.
Namun, tiba-tiba dia berdiri lalu berjalan ke arah kelas setelah selesai makan,
namun ia sebelumnya melambaikan tangannya. Aku jadi malu dibuatnya, mungkin dia
tahu bahwa aku tadi memperhatikannya.
***
Hari-hari berikutnya kami semakin
dekat, suatu hari aku diajak oleh Ibnu untuk datang ke rumahnya, disana akan
ada acara ulang tahun adiknya, bagaimana pun juga aku jadi tidak enak kalau aku
menolak. Akhirnya aku minta pendapat ke Firda, jawaban Firda pun sama
sepertiku. Selepas dari itu, aku memberanikan diri, aku dijemput olehnya di
depan sekolah, sekitar pukul 15.00. Sampai-sampai mungkin pukul 15.30, aku
disambut baik disana. Entahlah, namun pikiranku kacau sekali disana, pikiranku
kemana-mana. Aku takut dianggap orang yang memanfaatkan Ibnu, tak lebih lagi
aku orang yang tak punya. Awalnya aku menikmati
acara tersebut, namun setelah ada pikiran tersebut aku semakin pesimis ke
setiap orang. Akhirnya aku mengajak Ibnu pulang cepat dengan alasan aku
tiba-tiba sakit perut.
Saat akan mengantarkanku, Ibnu
terpaksa membawa mobil, dirinya sangat cemas dan itu sangat kelihatan sekali.
Aku berbicara di dalam hati “Maaf Ibnu, sebenarnya aku baik-baik saja”.
Sesampai di rumah, ia bilang akan kembali lagi untuk membawakan obat untukku.
Aku langsung menolaknya, aku menyuruh agar tidak terlalu peduli kepadaku.
Sebenarnya aku tidak tega mengatakan ini, aslinya aku ingin mengatakan bahwa “tadi aku
berbohong”.
Aku pulang kerumah, saat sampai di rumah aku duduk terlebih dahulu, dirumah
hanya ada Ibu saja, dan aku curhat semuanya kepada Ibu. Ibu kaget atas
penyataan semua ini, namun akupun sudah terlanjur. Akhirnya ibu meminta
pendapat kepada bapak, dan bapak hanya tersenyum, dan bilang “lupakan masalah
tersebut, kamu itu anak satu-satunya buat bapak, buat kami bangga”. Aku bingung
antara menjauhi Ibnu atau kembali seperti semula, hingga akhirnya aku mencoba
membenah diri, aku berjalan menuju perpustakaan, meskipun sudah tutup karena
sudah hampir malam, aku tetap saja pergi kesana. Tidak ada yang tahu aku pergi
kesana, setelah sampai tujuan, hujan mulai turun. Entahlah, mungkin ini
pertandata dari tuhan bahwa aku ini salah, orang yang menyia-nyiakan seseorang.
Dan tepat pukul 20.00, ada sebuah mobil yang mengarah ketempatku. Lalu keluar
laki-laki 2 orang, dan ternyata itu adalah Bapak dan Ibnu. Aku diberi payung
oleh Bapak, dan aku duduk di kursi belakang bersama Bapak, bapak terlihat sangat cemas.
Sesampai dirumahku, bukan aku meminta maaf, melainkan aku terus terang
kepadanya, aku meminta
kepada bapak untuk bicara berdua
dengan Ibnu. Aku bilang :
“Hey, maaf ya aku merepotkanmu terus. Kamu itu tidak
salah kok, yang salah itu adalah aku sendiri. Tadi sore itu sama sekali tidak
sakit, melainkan baik-baik saja, aku ini merasa kecewa kepada diriku sendiri,
karena merasa memanfaatkanmu. Untuk kali ini, kita jangan ada hubungan entah
sampai kapan”
Lalu
setelah mendengar perkataanku, Ibnu berbica :
“Hey aku
mau berbicara sedikit, untuk melanjutkan apa yang kamu inginkan, tapi kamu
jawab ya setiap pertanyaanku”, Tanya Ibnu
“Apa yang
akan kamu bicarakan?” jawabku
“Kamu
tahu komponen sebuah kendaraan itu penting?”
“Pasti
tahu, karena jika salah satu komponen tidak berfungsi maka semuanya tidak akan
seimbang”
“Iya
betul, kenapa aku suka kamu, kamu itu cantik, tak hanya cantik melainkan pintar
juga”
“Sudah-sudah,
apa yang akan kamu tanyakan lagi?”
“Anggap
saja kendaraan itu adalah manusia sendiri, lalu manusia tersebut kehilangan
salah satu komponen tubuhnya. Aku akan jujur, aku ini penginap tumor Osteochondroma, biar kamu lebih mengerti,
aku ini punya penyakiit tumor tulang ringan. Asal kamu tahu, aku sebentar lagi
akan operasi dan akan cuti untuk kelas 11 ini, jadi kalau aku masih hidup
mungkin kita akan seangkatan, atau mungkin aku tidak akan sekolah lagi karena
hidupku telah di ambil oleh Tuhan. Kamu jangan mencariku lagi, karena aku akan
operasi diluar kota juga. Terimakasih ya untuk semuanya, maafkan aku, dan
doakan aku agar operasinya lancar”
Setelah berbicara seperti itu Ibnu ke rumah lalu salam kepada
orangtuaku, dia pergi begitu saja. Aku tak bisa berkomentar
apa-apa, aku hanya bisa menangis setiap malam, Ibu dan Bapak mengerti
apa yang terjadi. Semuanya mendukungku agar sabar dan kuat apa yang sedang aku
jalani. Setiap hari di sekolah aku tak pernah lagi melihat Pak Didi apalagi
melihat Ibnu. Jika saja waktu bisa kembali, aku akan perbaiki semua. Aku tidak
akan menyia-nyiakan hidupnya yang sedang kritis tersebut, aku akan disisinya
terus, namun apalah daya, Tuhan telah menuliskan takdir kepada kita, kita tidak
bisa melampaui apa yang kita tidak bisa lewati. Mungkin banyak orang disana
yang sepertiku ini, yang menyesal, kecewa, menangis, haru. Dan aku berjanji
kepada seseorang disana, bahwa pengorbanan seseorang wajib untuk dihormati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar