Rabu, 29 Juni 2016

Bukan Pilihan

              Namaku Nisa, aku adalah anak dari pemilik kantin di suatu sekolah menengah atas yang terkenal di kotaku. Aku adalah anak biasa-biasa saja yang mampu berharap tinggi layaknya anak orang-orang kaya. Tak hanya itu saja, aku beruntung yaitu orangtua ku adalah pemilik kantin disana, karena aku bisa sekolah disana juga tanpa melewati jalur seleksi juga, pasti tahulah lewat jalur belakang. Saat SMA ini aku belum pernah bolos, telat, atau pun berbohong pura-pura sakit terus engga sekolah. Aku selalu rajin, kenapa? Karena aku menginap juga di kantin sekolah, jadi semua yang berhubungan dengan sekolah aku belum pernah terlewati, atau mungkin aku murid satu-satunya yang belum pernah absen di sekolah ku ini, aku juga termasuk murid pintar, karena terakhir aku masuk 3 besar di kelas ku.
            Setiap istirahat aku langsung ke kantin ibuku yaitu tepatnya berada di pojok letaknya, ya kantin-kantin lain berada di tengah, sehingga jika dibandingkan dengan kantin lain, kantin kami mungkin yang paling sedikit yang didatangi murid. Namun, kami tak selalu mengeluh, hanya bisa bersyukur bisa diberi sebuah atap, dan masih bisa tidur meskipun sempit-sempitan bersama Bapak dan Ibu. Kalau Bapak setelah bersih-bersih sekolah biasanya langsung bantu Ibu di kantin, jadi aku engga bantu Ibu dan hanya duduk di kursi yang berjajar banyak di depan kantin, aku duduk di kursi pojok, bisa dibilang jajaran kursi yang jarang di duduki, tapi banyak yang lewat. Biasanya aku pasang headseat lalu mendengarkan lagu - lagu yang diberikan temanku.
            Setiap pulang sekolah aku biasanya pergi ke perpustakaan kota, tak jauh kok dari sekolahku, mungkin 20 meter ada. Biasanya kalau murid lain mungkin banyak yang ikut bimbel, namun aku hanya bisa pergi ke perpustakaan, baca Novel, Koran, buku pelajaran, ataupun mengerjakan tugas disana. Begitulah kenapa aku bisa menjadi ranking 3 besar di kelas ku. Disana, banyak member juga yang sama sepertiku, yaitu menjadi pecinta baca buku. Kira-kira member aktif disana mungkin sekitar 10 orang, aku tidak mengetahui setiap nama member semuanya, namun hanya beberapa. Dan yang pasti, yang paling aku kenal adalah teman sebangkuku di sekolah, yang sekaligus member disana, yaitu adalah Firda.
            Suatu hari dimana aku mulai jenuh dengan rutinitasku ini, aku mencoba menyewa buku dari perpus bukan untuk dibaca disana, melainkan untuk baca di rumah (kantin), pada saat pendataan di meja administrasi perpustakaan, aku merasa disamping seperti ada seseorang yang juga sedang menungguku. Aku menoleh ke arah samping, dan tak kusangka itu adalah seorang laki-laki. Tak kusapa dirinya, tak kutanya siapa dirinya. Namun, setelah aku lihat tadi, muka orang itu sangatlah tak asing, tapi aku tak tahu kapan aku pernah bertemu dengannya. Setelah selesai berada di perpustakaan aku langsung pulang. Sebelumnya aku bilang ke Firda bahwa aku akan cepat-cepat pulang. Dalam perjalanan, aku tak memikirkan apapun, hanya tujuanku ke rumah bantu ibu disana.
            Tak lama, aku sudah sampai di rumah, aku langsung melalukan pekerjaan rumah, tanpa disuruh pun aku sudah sangat mengerti. Saat aku sedang mengepel lantai, aku tiba-tiba mengingat wajah laki-laki yang tadi siang aku temui. Aku coba memikirkan siapa dirinya, namun aku benar-benar tak tahu. Aku rehat sejenak dan mencoba menelpon Firda.
“Fir, aku mau nanya nih. Tapi malu buat diceritain” ucap Nisa
“Mau nanya apa? Kamu mau buat contekkan? Terus gimana caranya? Aduh…..” jawab Firda
“Haha,bukan itu. Aku mau nanya nih soal tadi siang”
“Siang kapan? Pas di perpustakaan?”, jawab Firda sambil bingung
“Iya betul” jawabku
            Karena keasyikan menelpon, tak terasa pekerjaan rumah terbengkalai, dan jawaban Firda membuatku penasaran, karena dia enggan memberitahuku siapa laki-laki tersebut dan dia tidak mau menceritakan lewat telepon, yang ia mau adalah menceritakan secara langsung dan menceritakannya di perpustakaan, maka aku akhiri telepon tersebut. Keesokan harinya, setelah pulang sekolah aku langsung ajak Firda ke perpustakaan, pada saat diperjalanan, firda benar-benar menyebalkan, dia masih konsisten masih belum menceritakan siapa orang tersebut, bahkan dia mengejekku. Siapa sih yang engga suka sama sifat Firda seperti ini.
            Setelah sampai, Firda bukan mengajak aku duduk, melainkan memegang erat tanganku dan menarikku ke pojok ruangan perpustakaan. Sebenarnya perpustakaan itu adalah tempat yang tak  asing bagiku, namun setelah ke pojok tersebut suasana agak canggung. Saat aku ditarik oleh Firda, tak berselang lama aku langsung berpikir “Apakah Firda akan mempermalukanku?”. Namun sayangnya tidak, pikiran tersebut benar-benar diluar perkiraan. Firda mempertemukanku dengan Pak Didi, yaitu guru Bahasa Indonesia di sekolahku. Aku bingung kenapa Firda memperkenalkanku dengan dengan Pak Didi. Hingga akhirnya kita mengobrol bertiga, yaitu aku, Firda, Pak Didi.
“Oh, Nisa ternyata suka main disini yak?”, ujar Pak Didi
“Iya Pak, berkat saya akhirnya Nisa suka tempat ini, bahkan dia masuk 3 besar pak dikelasnya,”, jawab Firda dengan memotong pembicaraan
“Anu, bapak juga suka kesini?” tanyaku
“Oh ya tentu, saya bukan hanya sebagai guru, saya juga tata kelola buku disini. Tapi tak hanya itu saja, saya juga selalu mengantar anakku kesini. Nisa tahu?”
“Anak bapak siapa ya? Nisa benar-benar tidak tahu bahwa anak bapak sering kesini”
“Maaf pak, biar lebih jelas bolehkah saya yang menjawab pertanyaan Nisa?”, jawab Firda
“Begini, waktu itu, tepatnya saat kamu sedang mengantri untuk meminjam buku ada seorang laki-laki, itu adalah anak Bapak Didi. Namanya adalah Ibnu, dia satu sekolah dengan kita, yaitu kakak kelas kita kelas XI, jangan lupa yak dia namanya Ibnu. Kamu bilang tak asing kan? Yak benar, kemarin itu adalah pertemuan keduamu dengan Ibnu. Pertemuan pertamamu itu saat bertengkar dengan Ibnu gara-gara novel yang judulnya “Sang Pemimpi”, padahal udah ada filmnya tapi masih aja mau baca novelnya. Kenapa kamu diam saja? Malu atas apa yang aku jawab di depan Pak Didi. Kamu suka dengan Ibnu? Pak jodohkan saja Nisa dengan anak Bapak hehe”
            Suasana mencair, dan aku lega atas apa yang semua jawaban Firda dibicarakan. Ternyata orang itu adalah kakak kelasku sendiri, bahkan anak guru juga. Tak berselang lama, firasat sebelumnya muncul kembali. Yup benar, Ibnu akhirnya muncul, dia telat ke perpustakaan karena ada tugas kelompok, akupun benar-benar canggung. Entah ini sudah direncanakan atau tidak, tapi setelah Ibnu datang. Pak Didi dan Firda tiba-tiba bilang ada urusan, dengan polosnya aku jawab “iya”, dan mereka tiba-tiba menghilang. Anehnya, mungkin ini adalah rencana, dan kenapa aku mau maunya mengikutin rencana mereka. Tapi beruntungnya aku bisa berhadapan dengan Ibnu, entahlah bagaimana perasaan sekarang ini, canggung, senang. Kami berdua terdiam beberapa menit, karena satu sama lain canggung, dan mungkin Ibnu ingin mengobrol, akhirnya dia bilang “Hai” untuk pertama kalinya.
“Masih ingat waktu dulu rebutan novel?”, Tanya Ibnu
            Aku pun tertawa malu dan meminta maaf apa yang aku lakukan dulu. Perasaan aku mengobrol dengan Ibnu beberapa menit, namun ternyata telah mengobrol selama satu jam, lalu aku diantar pulang oleh dia dengan motor matic nya. Aku duduk mengarah kesamping, saat aku melihat spion kiri motornya dia sedang tersenyum lebar, mukaku tersipu malu, meskipun dia tidak tahu aku malu sekarang. Dalam perjalanan ia kaget karena heran ingin berhenti di sekolah, dan ternyata dia baru tahu bahwa aku ini adalah anak penjaga kantin sekolah.
            Keesokan hari tepatnya saat istirahat sekolah, aku sedang duduk di tempat biasaku, dan yang tak kuduga adalah aku melihat Ibnu di Kantin. Seketika, waktu terasa lama, debu-debu yang berterbangan terasa jelas dilihat, bahkan seperti salju yang turun. Semakin kulihat, semakin indah wajahnya. Dia memiliki rambut warna hitam, rambut klimis mengarah ke kiri, terkadang ada sedikit rambut menghalangi matanya, sesekali dia membenarkan rambutnya. Ia membawa pulpen yang diselipkan di saku pakaian seragamnya. Namun, tiba-tiba dia berdiri lalu berjalan ke arah kelas setelah selesai makan, namun ia sebelumnya melambaikan tangannya. Aku jadi malu dibuatnya, mungkin dia tahu bahwa aku tadi memperhatikannya.
***
            Hari-hari berikutnya kami semakin dekat, suatu hari aku diajak oleh Ibnu untuk datang ke rumahnya, disana akan ada acara ulang tahun adiknya, bagaimana pun juga aku jadi tidak enak kalau aku menolak. Akhirnya aku minta pendapat ke Firda, jawaban Firda pun sama sepertiku. Selepas dari itu, aku memberanikan diri, aku dijemput olehnya di depan sekolah, sekitar pukul 15.00. Sampai-sampai mungkin pukul 15.30, aku disambut baik disana. Entahlah, namun pikiranku kacau sekali disana, pikiranku kemana-mana. Aku takut dianggap orang yang memanfaatkan Ibnu, tak lebih lagi aku orang yang tak punya. Awalnya aku menikmati acara tersebut, namun setelah ada pikiran tersebut aku semakin pesimis ke setiap orang. Akhirnya aku mengajak Ibnu pulang cepat dengan alasan aku tiba-tiba sakit perut.
            Saat akan mengantarkanku, Ibnu terpaksa membawa mobil, dirinya sangat cemas dan itu sangat kelihatan sekali. Aku berbicara di dalam hati “Maaf Ibnu, sebenarnya aku baik-baik saja”. Sesampai di rumah, ia bilang akan kembali lagi untuk membawakan obat untukku. Aku langsung menolaknya, aku menyuruh agar tidak terlalu peduli kepadaku. Sebenarnya aku tidak tega mengatakan ini, aslinya aku ingin  mengatakan bahwa tadi aku berbohong. Aku pulang kerumah, saat sampai di rumah aku duduk terlebih dahulu, dirumah hanya ada Ibu saja, dan aku curhat semuanya kepada Ibu. Ibu kaget atas penyataan semua ini, namun akupun sudah terlanjur. Akhirnya ibu meminta pendapat kepada bapak, dan bapak hanya tersenyum, dan bilang “lupakan masalah tersebut, kamu itu anak satu-satunya buat bapak, buat kami bangga”. Aku bingung antara menjauhi Ibnu atau kembali seperti semula, hingga akhirnya aku mencoba membenah diri, aku berjalan menuju perpustakaan, meskipun sudah tutup karena sudah hampir malam, aku tetap saja pergi kesana. Tidak ada yang tahu aku pergi kesana, setelah sampai tujuan, hujan mulai turun. Entahlah, mungkin ini pertandata dari tuhan bahwa aku ini salah, orang yang menyia-nyiakan seseorang. Dan tepat pukul 20.00, ada sebuah mobil yang mengarah ketempatku. Lalu keluar laki-laki 2 orang, dan ternyata itu adalah Bapak dan Ibnu. Aku diberi payung oleh Bapak, dan aku duduk di kursi belakang bersama Bapak, bapak terlihat sangat cemas. Sesampai dirumahku, bukan aku meminta maaf, melainkan aku terus terang kepadanya, aku meminta kepada bapak untuk bicara berdua dengan Ibnu. Aku bilang :
“Hey, maaf ya aku merepotkanmu terus. Kamu itu tidak salah kok, yang salah itu adalah aku sendiri. Tadi sore itu sama sekali tidak sakit, melainkan baik-baik saja, aku ini merasa kecewa kepada diriku sendiri, karena merasa memanfaatkanmu. Untuk kali ini, kita jangan ada hubungan entah sampai kapan”

Lalu setelah mendengar perkataanku, Ibnu berbica :  
“Hey aku mau berbicara sedikit, untuk melanjutkan apa yang kamu inginkan, tapi kamu jawab ya setiap pertanyaanku”, Tanya Ibnu
“Apa yang akan kamu bicarakan?” jawabku
“Kamu tahu komponen sebuah kendaraan itu penting?”
“Pasti tahu, karena jika salah satu komponen tidak berfungsi maka semuanya tidak akan seimbang”
“Iya betul, kenapa aku suka kamu, kamu itu cantik, tak hanya cantik melainkan pintar juga”
“Sudah-sudah, apa yang akan kamu tanyakan lagi?”
“Anggap saja kendaraan itu adalah manusia sendiri, lalu manusia tersebut kehilangan salah satu komponen tubuhnya. Aku akan jujur, aku ini penginap tumor Osteochondroma, biar kamu lebih mengerti, aku ini punya penyakiit tumor tulang ringan. Asal kamu tahu, aku sebentar lagi akan operasi dan akan cuti untuk kelas 11 ini, jadi kalau aku masih hidup mungkin kita akan seangkatan, atau mungkin aku tidak akan sekolah lagi karena hidupku telah di ambil oleh Tuhan. Kamu jangan mencariku lagi, karena aku akan operasi diluar kota juga. Terimakasih ya untuk semuanya, maafkan aku, dan doakan aku agar operasinya lancar”



            Setelah berbicara seperti itu Ibnu ke rumah lalu salam kepada orangtuaku, dia pergi begitu saja. Aku tak bisa berkomentar apa-apa, aku hanya bisa menangis setiap malam, Ibu dan Bapak mengerti apa yang terjadi. Semuanya mendukungku agar sabar dan kuat apa yang sedang aku jalani. Setiap hari di sekolah aku tak pernah lagi melihat Pak Didi apalagi melihat Ibnu. Jika saja waktu bisa kembali, aku akan perbaiki semua. Aku tidak akan menyia-nyiakan hidupnya yang sedang kritis tersebut, aku akan disisinya terus, namun apalah daya, Tuhan telah menuliskan takdir kepada kita, kita tidak bisa melampaui apa yang kita tidak bisa lewati. Mungkin banyak orang disana yang sepertiku ini, yang menyesal, kecewa, menangis, haru. Dan aku berjanji kepada seseorang disana, bahwa pengorbanan seseorang wajib untuk dihormati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

iklan

Entri Populer